Arung Jeram

Momen terindah adalah disaat kita melihat orang lain bahagia.

Mengabadikan Keindahan Alam

Mengabadikan ciptaan Tuhan, itu artinya kita bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuk kita.

Cipta Karya

Memanfaatkan apa yang ada dialam menjadi suatu yang bernilai seni, karena seni itu adalah indah.

Kebersamaan

Menipiskan jarak antara Guru dan Murid, belajar dan bermain bersama.

Tausiyah dan Diskusi

Menambah pengetahuan dan mengisi ruhani, mendamaikan kehidupan.

Kamis, 19 Maret 2015

Yuria: Skor TOEFL Akhyar 640

Akhyar, alumni Sekolah Alam Bandung

Bakat dan minat, bukan sesuatu yang tak bisa mengalami perubahan dan perkembangan. Apalagi kepandaian dan prestasi, kedua hal tersebut merupakan hasil dari proses belajar dan pengujian. Namun demikian, dalam perjalanan perubahan dan perkembangan bakat dan minat, ataupun proses pencapaian kepandaian dan prestasi, faktor eksternal individu menjadi factor yang signifikan dan menentukan.

Bagi seorang anak, pola asuh dan dukungan orang tua sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Adalah Akhyar Imaduddin Kamili, anak pertama dari 5 bersaudara dari pasangan Ibu Yuria Prathiwi Cleopatra dan Bapak Ismir Kamili, seorang remaja putra multitalenta dan berprestasi, yang ingin kami gali informasi dari orang tuanya. Sekedar informasi, kedua orangtua ananda Akhyar ini adalah aktivis yang tidak pernah surut agenda dan kesibukannya. Ibunya juga aktif di banyak kegiatan masyarakat, begitu pula ayahnya. Akhyar lahir di Bandung pada 25 Oktober 1997. Kini tinggal dengan orang tuanya di jl. Pamekasan no.26, Antapani, Bandung.

Alhamdulilah, kami berkesempatan untuk mewawancarai ibu Patra – panggilan akrab dari ibu Yuria Prathiwi Cleopatra – di tengah begitu banyak kesibukannya.
(Kami biasa memanggil ibu Patra dengan panggilan ‘teteh’)  

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh
Wa’alaykumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh

Ini dengan Tika teh, ingin mengetahui kisah remaja berprestasi. Kami mendapat informasi tentang putra teteh, Akhyar...
Oh begitu, silakan teh...

Akhyar sekarang kelas berapa, ya teh?
Akhyar sekarang kelas 3 SMA teh... Akhyar sekolah SD sampai dengan SMP di SekolahAlam Bandung, tapi sekarang SMA nya homeschooling.

Apa saja prestasi Akhyar selama SD sampai SMA sekarang?
Prestasi apa yah? (tertawa)

Prestasi di bidang akademis atau di bidang ekstra kurikuler, barangkali?
Dia (Akhyar) pernah juara lomba robot. Dia juga menginisiasi gerakan SIRUP, Solidaritas Remaja Untuk Palestina.

Waktu kapan itu, teh?
Kalau SIRUP sekarang. Sebenarnya, di Sekolah Alam gak pake prestasi akademis , gak pake sistem ranking... Apalagi di homeschooling (tertawa)
Pernah juga juara 3 lomba bahasa prancis, kalo gak salah...  Sebenernya jarang ikut lomba,sih...
Oh ya, hafalannya sekitar 4 juz...

Menurut  teteh sebagai ibunya, Akhyar itu tipe anaknya seperti apa? Cenderung menyukai hal-hal yang sifatnya akademis, atau lebih suka inovasi?
Dia sukanya berekspresi dan bereksplorasi, sih. Berorganisasi, bikin proyek (kegiatan-red), belajar bahasa asing, dan lain-lain. Tentang SIRUP, itu komunitas baru, anggotanya anak-anak SMA dan mahasiswa. Jadi dia keliling ke SMA-SMA, audiensi dengan kepala sekolahnya untuk penggalangan dana dan presentasi kondisi Palestina ke anak-anak SMA dan SMK di kota Bandung. Sering juga bikin aksi peduli Palestina di Car Free Day Dago. Ada grupnya di facebook, bisa di search SIRUP Solidaritas Remaja Untuk Palestina

Oh ya teh, saya akan konfirmasi tentang nilai TOEFL tertinggi yang pernah dicapai Akhyar...
Oh..., TOEFL itu ujiannya baru satu bulan yang lalu, di EF (English First). Itu baru yang ITP,paperbased.

Nilainya berapa teh?
Scorenya 640.

Baik teh. Apakah dari kecil Akhyar sudah terlihat menonjol daya inisiasinya?
Alhamdulillaah... Itu salah satu talenta yang terlihat dari Akhyar...
Akhyar tidak perlu disuruh-suruh untuk belajar dan beraktivitas, orang tuanya tinggal memantau dan mengarahkan. Dia suka presentasi di acara da’wah kampus. Kebanyakangaulnya sama mahasiswa juga. Dia juga suka nulis di blognya :http://akhyarkamili.blogspot.com/
Oh iya, dia juga orator

Yang terakhir ini teh, yang paling dominan mengarahkan Akhyar selama ini siapa ?
Nah, kalau itu abinya (tertawa)

Baiklah..., terima kasih atas waktu dan kesediannya, teh... Jazaakillaah teh, wassalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh
Waiyaaki, wa’alaykumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh


(Wawancara berlangsung via telpon oleh Tika Syahida)

Minggu, 15 Maret 2015

Lebih Sehat & Bahagia Di Sekolah Alam Bandung


Tidak ada pos satpam, tak ada lapangan semen, tak ada tiang bendera, dan tak ada dinding-dinding tembok di lereng berundak itu. Yang ada hanya saung-saung, area persawahan, tanaman hijau dan pepohonan, serta kolam-kolam air.
Sekilas, tempat ini seperti tempat peristirahatan, tempat melepas lelah dari kebisingan kota. Namun dalam waktu tertentu, jangan harapkan ada kesunyian di tempat ini.
Anak-anak berlarian, bermain dengan riang di sekitaran saung, lapang tanah, dan ruas-ruas jalan setapak beralas batu dan beranak tangga. Di enam saung yang masing-masing bertingkat dua tersebut, kegaduhan khas anak-anak menghiasi kesejukan alam yang astri.
Bukan kesan bising yang muncul dari tempat ini, melainkan suasana segar dari alamnya yang terpelihara dan ceria dari anak-anak yang gembira. Saat pertama kali datang ke tempat ini, mungkin Anda tidak akan percaya bahwa tempat ini adalah sekolah, institusi tempat menimba ilmu, tempat membentuk mental dan kepribadian.
Sekolah bernama “Sekolah Alam Bandung” (SAB) ini lebih nampak bak arena bermain anak di alam terbuka hijau. Murid-murid di sini tak berseragam layaknya anak sekolah formal yang biasa dijumpai. Meski muridnya banyak bermain, sekolah ini tidak main-main. Ada jenjang pendidikan sebagaimana sekolah formal, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Lanjutan (SL) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Ditemui ketika masa istirahat, sekumpulan anak sedang menghafal bacaan sholat di taman dekat sebuah kolam. Secara bersama-sama mereka melantangkan bacaan sholat bagian tahiyat akhir (gerakan duduk sebelum salam pada sholat) tanpa melihat buku yang digenggam di tangan. Mereka bernama Cikal (8 tahun), Aldin (9), dan Salma (9). Mereka adalah murid SD kelas tiga.
“Sekarang mau ujian praktek. Nanti kalau sudah masuk, kami bakal dites satu-satu,” ujar Cikal tanpa rasa gugup ketika ditanya tentang maksud mereka menghapal bacaan sholat tersebut.
Cikal yang bernama lengkap Cikal Gumiwang Nagari adalah murid yang sejak TK bersekolah di Sekolah Alam Bandung. Dia mengaku betah dan senang bersekolah di SAB. Dia pun ingin melanjutkan SMP di sekolah ini. Sedangkan Anugerah Aldin Alfadilah dan Nisrina Salma adalah siswa pindahan yang sebelumnya besekolah di sekolah formal.
“Dulu waktu kelas satu, sekolah di sini. Kelas duanya pindah sekolah. Terus kelas tiga pindah lagi ke sini,” kata Aldin. Ditanya kenapa dia sampai pindah lagi ke SAB, Aldin hanya menjawab, “Seneng aja sekolah di sini.” Salma pun tak jauh berbeda dengan Aldin. Membandingkan dengan sekolah sebelumnya, Salma mengaku lebih senang bersekolah di SAB.
Beberapa saat berkeliling, seorang anak menghampiri dan menawarkan pisang goreng. Anak ini bernama Muhammad Iqbal murid kelas empat yang sedang ujian praktek pelajaran wirausaha. Dia menawarkan dagangan ke teman-temannya, adik kelas ataupun kakak kelasnya, dan ke guru-guru yang ada di sana. Pisang goreng yang dia jual, dibawanya dari rumah.
“Tadi dari pagi jualan sebelas pisang, sekarang tinggal sisa dua. Bapak mau beli?” tawarnya tanpa kikuk kepada bisnis saat masa istirahat pada jelang siang.
Dalam satu hari hanya ada sekitar dua-tiga pelajaran untuk SD. Murid-murid lebih banyak mengeksplorasi alam karena mereka begitu dekat dengan itu dan secara khusus ada aktivitas outbond, bercocok tanam, dan sebagainya. Para pengajar pun mengarahkan murid-murid untuk mengeksplorasi diri dengan pelajaran seperti story telling, wirausaha, dan pelajaran lainnya yang membentuk mental dan kepribadian, serta menumbuhkan interaksi sosial dengan sesama teman kelas, adik kelas, atau kakak kelasnya.
Metode pembelajaran semacam itu sempat dipertanyakan dan bahkan tak dianggap oleh dinas terkait saat SAB ini baru dirintis lima lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001. Tanpa miliki latar kependidikan, hanya berbekal pengalaman di lembaga kerohanian dan pendidikan seperti Kharisma ITB dan Yayasan Salman ITB, lima orang ini menawarkan suatu gagasan konkret atas pendidikan.
Salah satu pendiri SAB yang saat ini masih aktif terjun di sekolah dan menjabat sebagai Direktur Pengembangan Sekolah Alam Bandung Eko Kurnianto mengatakan pihaknya (para pendiri) beruntung dengan bermodal gagasan, dapat bertemu dengan pemilik tanah di kawasan Dago, tepatnya Jl.Cikalapa II no.4 Tanggulang Dago Pojok Bandung, yang satu visi untuk mewujudkan Sekolah Alam Bandung seperti sekarang ini.
“Sekolah alam itu dibuat sebagai antitesisi terhadap pendidikan yang ada waktu itu yang hanya fokus pada aspek kognitif seperti nilai-nilai atau angka-angka, melupakan aspek potensi manusia itu sendiri, seperti mental dan kepribadian,” ungkap Eko kepada bisnis.
Segala hal yang ada di sekolah alam tersebut tidak lepas dari upaya untuk menggali potensi dan membentuk mental manusia. Apa yang diterapkan di sekolah ini punya kandungan filosofis, seperti dalam urusan pakaian yang dibebaskan tak berseragam dan terkait penataan bangunan.
“Menjadi sorotan sekolah alam adalah kreativis dan kekritisan yang dimatikan pendidikan kita sekarang dengan penataan bangunan dengan ruang-ruang kelas tersekat dinding-dinding tembok,” katanya.
Soal pakaian, Eko menjelaskan pakaian bukan elemen penting dalam pendidikan itu sendiri, tapi cukup berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Pihaknya ingin menanamkan belajar itu dimana saja, kapan saja, tidak harus selalu di belakang meja dan berseragam. Selain memang, menurutnya, murid-murid sekolah alam setiap harinya selalu berkotor-kotoran.
“Menanamkan juga jiwa sosial, dengan pakaian bagus tidak usah sombong, tidak usah minder juga karena pakaian. Mendobrak kondisi awal seragam itu hanya ada di militer dan pabrik. Anak bisa mempersoalkan banyak hal. Sekolah itu bukan pabrik atau militer, segala hal bisa dipertanyakan,” paparnya.
Untuk urusan kurikulum, Kepala Sekolah Alam Bandung Aryo Budi Hutomo mengatakan sekolah alam mengadopsi kurikulum sekolah formal untuk beberapa pelajaran khususnya yang di-ujian-nasional-kan dan selebihnya menggunakan kurikulum tersendiri. Walau demikian pihaknya tetap berkordinasi dengan dinas terkait dan berhubungan dengan para kepala sekolah di Bandung.
Aryo mengakui hingga saat ini SAB belum terakreditasi dan hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi sekolahnya. Pihaknya enggan untuk direpotkan dengan akreditasi ataupun hal-hal lain terlebih bila berkonsekuensi digerusnya metode pembelajaran yang mengutamakan pembentukan akhlak dan mental, atau Aryo mengistilahkannya pendidikan secara holistik, di sekolahnya.
“Kebutuhan kami untuk akreditasi sebenarnya agar bisa mengadakan ujian nasional sendiri di sini. Saat ini kami masih menginduk ke sekolah lain, walaupun itu tidak menjadi soal,” ucapnya.
SAB saat ini memiliki guru sebanyak kurang lebih 30 orang. Jumlah murid SD saat ini ada 150 anak dan SMP 30 anak. Masing-masing tingkatan (angkatan) SD dan SMP hanya ada satu kelas yang jumlah muridnya dibatasi 24 anak dan diisi dua guru, pria dan wanita, dan guru pendamping untuk anak berkebutuhan khusus.
Untuk SD, sekolah ini telah meluluskan enam angkatan sejak didirikannya dan dua angkatan untuk SMP. Secara nilai, aku Aryo, nilainya murid-muridnya memang beragam, ada yang memang baik dan ada juga yang kurang. Namun hal itu, sebagaimana diterapkan sekolahnya, tidak terlalu dihiraukan karena bukan satu-satunya parameter penilaian.
Murid-murid setiap semesternya menerima raport yang di dalamnya ada nilai secara kuantitatif seperti sekolah formal pada umumnya berupa angka-angka, dan ada penilaian secara kualitatif dan naratif dari guru yang selama setahun mendidik di kelasnya.
“Guru menjadi elemen sangat penting dalam pembelajaran sekolah alam ini. Selain menjadi sumber ilmu, dia menjadi teladan dan pembimbing murid untuk menemukan potensi murid, yang setiap anaknya tentu berbeda,” terang Aryo.
Peran serta orang tua dalam pendidikan alternatif seperti sekolah alam tidak dapat dilepaskan mengingat metode pembelajaran yang diterapkan perlu dipahami oleh para orang tua murid. Aryo begitu pula Eko memosisikan orang tua sebagai mitra dalam pendidikan. Mereka terlibat dalam bentuk Dewan Kelas yang secara berkala melakukan diskusi bersama guru dan pihak sekolah tentang perkembangan anak dan pendidikan sekolah alam itu sendiri.
Roosphira Miswary, salah satu orang tua murid yang anaknya duduk di kelas dua dan tiga, mengatakan konsep pendidikan seperti yang ditawarkan oleh sekolah alam inilah yang dicarinya. Pada prinsipnya dia kurang bersepakat dengan sistem pendidikan nasional saat ini dengan hanya berfokus pada nilai yang terepresentasikan dengan adanya ujian nasional.
“Mungkin saya orang tua aneh yang menyekolahkan anaknya ke sekolah aneh,” ujarnya yang diiringi tawa kepada bisnis.
Ibu yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bidang pendidikan ini menyesalkan pendidikan formal selama ini yang membuat anak tidak kreatif atau tak bahagia untuk bersekolah. Menumpuknya pelajaran dengan metode pembelajaran yang mengedepankan hapalan menurutnya sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Selain itu, dia pun tidak yakin dengan sekolah formal dapat membentuk karakter atau mental anaknya untuk siap menghadapi tantangan di masa depan.
“Memang sekolah itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana masa depan anak. Ada faktor lingkungan dan faktor keluarga itu sendiri yang sangat menentukan. Tapi sebagai orang tua, saya pastinya mencari sekolah yang terbaik yang bisa turut memfasilitasi itu ,” paparnya.
Eko mengutarakan sekolahnya mungkin masih dapat ditandingi sekolah lain dalam urusan mencetak murid yang kritis atau kreatif. Namun ada hal lain menurutnya yang secara absolut tidak dapat ditandingi sekolah manapun, khususnya sekolah formal di Bandung. “Kelebihan secara obsolut di sekolah alam yaitu lebih bahagia dan lebih sehat. Tidak ada dinding, oksigen melimpah luah. Itu absolut,” tegasnya. (k4)

Kamis, 09 Oktober 2014

Biografi Seorang yang Tak Populer

Biografi pendek ini menceritakan tentang seseorang yang mungkin tidak populer namun cukup dikenal tetangganya (Hehe). Seorang Perempuan yang bernama lengkap Iis Ismayani kelahiran Bandung, 8 Agustus 1989 ini berharap tidak hanya ingin menjadi seorang pengajar namun juga pendidik. Berawal dari kecintaannya terhadap seni, dia berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Pendidikan Matematika pada tahun 2011. Setelah sebelumnya menjalani kehidupan masa SMA nya di SMAN 15 Bandung. Ada satu hal yang menarik, selama SD hingga duduk dibangku kuliah, berbagai kegiatan organisasi pernah diikutinya, mulai dari Pramuka, PMR, Mading, Paslibels (semacam perkumpulan anak seni), hingga Himatika Identika UPI. Menurutnya, banyak sekali ilmu baru yang didapat selama berorganisasi.

Gadis yang merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara ini sempat berprofesi sebagai guru privat dan invaller, lalu kemudian akhirnya bergabung di Sekolah Alam Bandung pada tahun 2013. Menurutnya banyak sekali pengalaman berharga yang didapatkan selama menjadi pendidik di SAB. Selain bisa kembali mengekspresikan diri, juga bisa mengikuti berbagai kegiatan outdoor yang menyenangkan.

Perempuan yang gila menonton film ini juga mengaku senang menulis. Meski dia masih belum percaya diri untuk mempublikasikan tulisannya. Beberapa cerpen dan sebuah novel tersurat di laptopnya begitu saja. (Hahaha)

Motto hidupnya sederhana saja, "ikhlas, sabar, dan bersyukur" karena menurutnya ketiga hal ini bisa mengantarkan pada kehidupan yang bahagia meski ada dalam situasi  sesulit apapun.

Demikian sekelumit biografi singkat dari perempuan tak populer namun cukup dikenal, putri dari pasangan ibu Umi dan Bpk. Ujang Karya (Alm). Semoga bermanfaat.